Langsung ke konten utama

ERA DIGITAL : PEMERINTAH, MADRASAH DAN GURU


ERA DIGITAL : PEMERINTAH, MADRASAH DAN GURU
            Oleh : Slamet Haryanto *)

Di era digital seperti sekarang teknologi komunikasi dan informasi terus mengalami perkembangan, untuk itu perkembangan teknologi juga harus dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan. Era digital telah banyak mengubah berbagai hal dalam kehidupan, namun sementara ini teknologi lebih banyak berkembang ke arah entertainment, belum banyak untuk kepentingan pendidikan terutama daerah pedesaan dan pinggiran. Perkembangan sudah menjadi sebuah gaya hidup masyarakat. Generasi milleneal saat ini memang tidak bisa lepas dari yang namanya teknologi digital untuk kehidupan sehari-hari. Untuk itu bagaimana kita bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam kepentingan pembelajaran, demi kemajuan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Era digital adalah konsekuensi dari sebuah era perjalanan jaman. Pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini akan berubah dan tidak ada satu pun yang tetap. Yang tetap hanyalah perubahan sedangkan semua yang lain, termasuk pergantian jaman dan lajunya perubahan itu sendiripun berubah: semakin pesat dan pesat...!!!. Perubahan yang sedang berlangsung sekarang ini melampaui bayangan sebelumnya. Pola transmisi pengetahuan telah berubah, semakin meluas dan tak berpusat. Lahirnya internet membuat informasi terpampang di mana-mana dan dapat diakses kapan pun dan dimana saja
Digitalisai... yaa... fenomena digitalisasi... Penggunaan smartphone yang cukup meluas yang digunakan oleh hampir semua kalangan membuat laju digitalisasi semakin menggeliat dengan cepat tanpa disadari. Semua kegiatan manusia semakin dipermudah dengan digitalisasi ini. Dari transaksi jual beli, kirim surat melaluai e-mail, hingga komunikasi jarak jauh tidak lah menjadi soal di jaman sekarang. Yang terbaru adalah adanya metode belajar dengan menggunakan aplikasi yang tersedia di smartphone. 
Dengan pembelajaran yang inovatif dan interaktif metode ini dinilai lebih efektif dalam memberikan pengetahuan kepada siswa dalam belajarnya. Ini dikarenakan cara kerja dari aplikasi tersebut lebih mudah dan simpel penggunaanya. Namun yang menjadi perhatian adalah para orang tua harus merogoh kantongnya untuk bisa mendapatkan metode pembelajaran tersebut secara intensif dalam artian berbayar.
Dalam konteks ini memang dengan adanya kemajuan teknologi sangatlah membantu cara kerja manusia dalam segala hal termasuk dalam segi pendidikan ini, akan tetapi disisi lain bagaimana dampak dalam dunia pendidikan di Indonesia sendiri. Pendidikan di Indonesia masih banyak sekali pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, termasuk yang paling utama adalah terpenuhinya infrastruktur secara menyeluruh di setiap sekolah di seluruh Indonesia. 
Memang dengan teknologi di dunia pendidikan, semuanya cukup efektif untuk memberikan pengajaran kepada siswa yang susah memahami pelajaran ketika di sekolah, namun tidak semua orang bisa menikmati kemudahan metode pembelajaran baru ini karena aplikasi tersebut berbayar. Sehingga hanya orang-orang kalangan menengah keatas saja yang bisa menikmati metode pembelajaran tersebut. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang belum mampu?, juga orang tua yang berpendidikan rendah ?, dan banyaknya guru yang kemampuan mengajarnya meragukan ?. Disinilah satu problem yang menambah rumitnya pendidikan di Indonesia. Dimana mencerdaskan kehidupan bangsa adalah sebuah kewajiban yang tertulis didalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, namun masih belum terlaksana dengan baik sampai sekarang. Di sisi lain dengan adanya aplikasi semacam ini semakin mempertegas kapitalisasi pendidikan di Indonesia yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang mampu saja.
Bagaimana Pemerintah ?
Pemerintah masih mempunyai PR, karena seringkali kemajuan teknologi di bidang pendidikan ini selalu dibarengi oleh laju kapitalisme. Kita sebagai bangsa Indonesia tidak akan bisa terlepas dari pergerakan teknologi yang semakin maju. Tinggal bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia bisa memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut mampu dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan dan tanpa terkecuali. Namun hasilnya banyak anak Indonesia yang masih mendapatkan kualitas pengajaran dan pendidikan yang rendah. Hasil kemampuan membaca, berhitung, dan pengetahuan sains anak-anak Indonesia berada di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Kedepannya,  dengan perkembangan teknologi khususnya digitalisasi pendidikan, anak-anak dapat belajar di mana saja dan guru pun dapat menjadi fasilitator dan moderator pembelajaran tanpa terikat ruang fisik. Ruangguru salah satu aplikasi yang sudah menunjukkan sedikit gambaran bagaimana itu dapat terlaksana. Dan masih banyak aplikasi-apliaksi lain yang sudah dan bahkan sangat membantu belajar anak tanpa kontak langsung dengan guru. Namun demikian guru juga dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, sehingga anak didik akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang diampaikannya.
Bagaimana Pemerintah Indonesia saat ini bisa memfasilitasi untuk mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan dan menyediakan berbagai solusi inovatif. Mungkin masih dalam proses atau mungkin juga sudah dimulai dari daerah-daerah tertentu yang dijadikan pilot project. Namun, yang tak kalah penting dari pengembangan digitalasasi ini adalah pemerataan pembangunan infrastruktur digital di seluruh pelosok negeri. Agar Indonesia dapat memanfaatkan perkembangan teknologi era digital, dukungan internet berkapasitas besar dan supercepat di semua desa dan sekolah diperlukan.
Bagaimana madrasah kita?
Dalam kurikulum 2013 ada tiga inti kecakapan yang ingin dikembang­kan, yaitu kemampuan belajar dan ber­­inovasi, kecakapan hidup, literasi digital dan ditambah dengan pendidi­kan karakter. Agar mempunyai ke­mam­puan belajar dan berinovasi pe­serta didik harus bisa berpikir kritis, krea­tif, bisa bekerja sama dan mampu berkomunikasi dengan orang lain. Un­tuk kecakapan hidup, peserta didik di­harapkan bisa berpikir fleksibel, pu­nya inisiatif, mempunyai jiwa kepe­mim­­pinan, mampu bersosialisasi, mau mem­pelajari budaya orang lain, pro­duk­tif, bisa diper­caya dan pembelajar seumur hidup. Kecakapan terhadap literasi digital dimaksud agar peserta didik dapat menguasai media, infor­masi, komunikasi dan teknologi.
Untuk memenuhi kecakapan sebagaimana yang dimaksud dalam kurikulum 2013, maka madrasah (satuan pendidikan) sebagai ujung tombak pelaksanan kurikulum tersebut sangat penting diperhatikan. Sebagai contoh, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas guru lebih sering mela­kukan me­­tode ceramah da­lam menyam­paikan materi pembe­la­jarannya. Padahal dengan metode ce­ramah ini, materi yang diberikan ha­nya bisa diterima siswa 10-20 persen. Ten­tunya lebih baik memperbanyak me­tode belajar dengan melihat gam­bar, menonton, men­demons­tra­sikan yang bisa mencapai ke­terserapan materi 30-50 persen atau yang lebih baik lagi melibatkan siswa dalam aktifitas pembelajaran yang keterserapan materi­nya bisa mencapai 70-100 persen.
Menciptakan pembelajaran dengan mem­perhatikan hal di atas akan lebih mudah jika madrasah mempunyai sarana internet yang memadai hingga sam­pai ke kelas-kelas. Faktanya, madrasah-madrasah yang berada di kota be­sar seka­lipun belum semuanya ja­ringan internet bisa diakses sampai ke kelas-kelas. Kalaupun ada, kece­pa­­­tannya sangat terbatas sehingga pada saat pembelajaran sering terken­dala. Sudah menjadi tuntutan bahkan keharusan madrasah mepunyai saranajaringan internet, karena semua data madrasah harus online ke EMIS, baik data guru, data siswa, program madrasah maupun sarana dan prasarana madrasah. Ujianpun juga dilaksanakan secara online sejak tahun kemarin, namun tahun ini yang rencananya ujian juga sama, tidak bisa dilaksanakan karena situasi dan kondisis negara bahkan dunia sedang dalam siap siaga pemberatasan penyebaran virus corona atau COVID-19.
Namun demikian pemerintah punya solusi dalam menyikapi anak-anak belajar di rumah yaitu dengan cara pembelajaran secara online maupun penugasan biasa. Banyak madrasah yang memanfaatkan kecanggihan tehnologi dengan pembelajaran online dengan aplikasi dari Kementerian Agama yaitu E-Learning. Semuanya menjadi mudah dan menyenangkan. Tinggal saluran internetnya harus benar-benar kuat sinyalnya, dan tenaga operatornya juga harus mumpuni dalam bidang IT. Hikmah dibalik belajar di rumah, madrasah semakin maju dalam penggunaan tehnologi informasi, digitalisaasi pendidikan benar-benar dimanfaatkan, wali muridpun  banyak yang antusias mendampingi putra-putrinya dalam belajar daring atau online.
Bagaimana Guru Kita ?
Tantangan berikutnya kompetensi guru yang merupakan penda­tang baru di dunia digital yang masih belajar me­ngua­sai teknologi digital sering kali men­jadi kendala dalam memaksimalkan po­tensi peserta didik yang rata-rata su­dah lahir saat teknologi digital sudah maju. Ketertarikan pe­serta didik terhadap cara guru me­nyajikan materi tidak jarang pula men­jadi berkurang karena variasi sumber belajar kurang mengikuti perkemba­ngan zaman. Mengandalkan buku pe­ga­ngan guru dan siswa dalam proses be­lajar-mengajar membuat siswa menjadi tidak tertantang bahkan cepat bosan. Guru terkadang kurang menya­da­ri bahwa semua materi yang ingin ia sampaikan sudah ada di internet, bah­kan mungkin sudah sering diakses oleh peserta didik.
Dalam situasi seperti ini, guru dipandang perlu berko­laborasi dengan siswa merancang pembelajaran yang mena­rik dari segi guru maupun siswa. Inisitif seperti ini tentunya datang dari guru sebagai fasilitator, dengan tetap menge­depankan konsep-konsep ke­il­muan yang benar sesuai dengan mata pe­lajaran yang ia ampu. Diskusi, debat de­ngan menge­mukakan data-data yang ada akan sangat membantu pe­serta didik untuk berpikir kritis, be­kerja sama, kreatif bahkan berpikir ber­beda, yang pada akhirnya guru dan sis­wa secara bersama-sama akan menarik kesimpulan-kesimpulan.
Guru harus bisa menerima kenyataan ini dan mau belajar serta mengikuti perkembangan tehnologi, khususnya dalam digitalisasi pendidikan, hal itu meliputi cara mengoperasikan komputer/laptop, mencari bahan ajar dan juga metode pembelajaran yang selalu berkembang mengikuti situasi dan kondisi kemajuan jaman. Menjadi guru sekarang bukan hanya apa yang diajarkan (bahan ajar) melainkan bagaimana belajar (proses belajar) menjadi sangat menentukan. Isi bahan ajar memang penting untuk diajarkan namun lebih dari itu cara dan proses belajar yang kaya, berbobot dan terbarukan termasuk cara mengaksesnya serta bagaimana cara mempelajarinya dan mengembangkannya lebih jauh lagi.
Guru sebagai Pendidik perlu mengajarkan tentang bagaimana mengakses informasi, ilmu pengetahuan dan keterampilan, selain memastikan bahwa apa yang dipelajari atau apa yang diakses itu adalah yang terbaik di bidangnya. Seorang pendidik juga harus lebih selektif dan selalu menyaring informasi dan ilmu pengetahuan antara mana yang penting, teruji dan akurat dan mana yang asal-asalan serta kurang dapat dipercaya /tidak akurat. Peran pendidik  adalah menjadi pendamping sedangkan anak didik pelaku pembelajaran. Pendidik yang melatih selanjutnya anak didiklah yang berlatih. Pendidik menunjukan jalan bagi anak didik, mengevaluasi dan mendorong pengembangan keterampilan yang berkesinambungan namun anak didiklah yang menekuni dan menjalaninya.
Memang, semuanya sangat berperan penting dan juga harus selalu beriringan bersama dalam perkembangan tehnologi khususnya dunia pendidikan, baik itu pemerintah sebagai pembuat kebijakan, madrasah yang selalu harus mengikuti dan taat pada kebijakan pemerintah dan juga guru sebagai pelaksana kebijakan di madrasah untuk menjadikan murid-muridnya menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan jaman khusunya di era digital ini. Semua perlu proses dan harus dilalui sehingga hasilnya sesuai dengan harapan pemerintah, madrasah dan juga guru.
Dan yang terakhir, mungkin tulisanku ini masih semrawut dan asal-asalan karena keterbatasanku terutama kurangnya dalam membaca, semoga dengan belajar menulis ini, saya pribadi akan lebih banyak membaca dan tahu akan tulisan yang baik dan benar serta mudah difahami isinya oleh pembaca dan juga benar dari segi tata bahasa dan penulisannya. Tulisan ini terkesan patah-patah dan kurang runtut  kalau dibaca dengan seksama, namun saya yakin pengalaman menulis ini akan menjadikan motivasi bagi diriku untuk lebih banyak membaca dan mengetahui bagaimana tulisan yang mendekati baik dan enak dibaca dalam arti mudah dipahami bagi pembaca. Semoga bermanfaat untuk semuanya dan tulisanku terus berkelanjutan..... aamiin.....
*)  Kepala MI AL Huda Joho Kalidawir Tulungagung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BLENDRANG (Jangan nget-ngetan klangenanku)

BLENDRANG ( Jangan nget-ngetan klangenanku ) Oleh : Slamet Haryanto   Doroampel, 28 Agustus 2020 Kalau berbicara masalah kuliner, tidak akan pernah habis, apalagi kuliner kesukaan yang tiap orang tentunya berbeda walaupun ada sebagian orang yang sama. Satu jenis bahan sayur saja bisa menjadi lima sampai sepuluh macam sayur kalau sudah masak, dan semua itu perlu keahlian dan kebiasaan tersendiri untuk memasak sayur, khususnya sayur lodeh yang pakai santan. Berbicara kuliner nasi pecel saja, tentu banyak yang terkenal dan pelanggannya juga sendiri-sendiri. Ada nasi pecel Tulungagung yang terkenal yaitu nasi pecel Mbok Modin di era 2000 sampai sekarang tapi setelah ganti generasi pelanggannya juga mulai berkurang, ada juga nasi pecel Mak Utik, pecel lor perempatan gludug, pecel gragalan dan lain sebagainya. Ngomongin pecel Mbok Modin aku ingat Pak Niam, entah siapa yang duluan masuk dan makan nasi di warung Mbok Modin (warungnya masih di barat/pas gapuro masuk IAIN yang se...

PENGHARGAAN YANG BENAR

PENGHARGAAN YANG BENAR Lingkungan punya pengaruh yang sangat besar dan penting terhadap seseorang, baik itu dalam segi sikap, tingkah laku, pengetahuan sampai status sosial/ harga dirinya. Maksudnya seseorang akan bermakna atau punya nilai lebih ketika dia di dalam lingkungan yang tepat.  Seorang guru akan dihargai ketika berada di lingkungan pendidikan, dalam arti di hadapan siswa, wali murid ataupun orang yang perhatian dalam pendidikan. Bahkan di masyarakatpun guru masih sangat dihormati karena mereka menganggap gurulah yang mengajari mereka dan anak-anaknya bisa menulis, membaca dan semua hal, sehingga guru masih punya status sosial yang sangat bagus di masyarakat.  Namun demikian tidak semuanya seperti itu, pastinya ada pengecualian, terlepas dari semua itu intinya kita teruslah berbuat baik, apapun penilaian orang lain karena walaupun dimata banyak orang kita dinilai baik, pasti ada satu atau dua orang yang tidak suka kepada kita begitu juga sebaliknya. Intin...