Slamet
Haryanto
Dalam bimtekku hari ini, hari
ketiga tepatnyanya jam terakhir yaitu pukul 15.00 – 17.00 materinya LITERASI
DIGITAL yang disampaikan oleh Bapak Dr.
Ngainun Naim, M.HI.
Awalnya kelas A diiming-imingi
beberapa buku yang sederhana tapi bisa
memompa adrenalin semangat menulis dan memotivasi untuk ditiru dan
dicontoh, yaitu anak-anak MI kelas 2 bisa menulis sebuah buku tentang
kegiatannya dalam seminggu. Kenapa anak-anak MI kelas 2 bisa menulis dan bisa
dijadikan buku ? apakah kami yang notabene sebagai Kepala Madrasah tidak bisa
seperti anak-anak kami ? atau mungkinkah bisa lebih dan lebih dari anak-anak
kami ?.
Semestinya dan seharusnya bisa, bahkan mestinya lebih baik
dari anak-anak kami atau bukunya lebih dan lebih segalanya dari mereka. Tapi
semuanya tergantung niat dan kemauan, tapi niat dan kemauan saja juga takkan
berbuah hasil dalam bentuk buku apabila tidak dimulai sekarang juga walaupun
dalam bentuk yang sederhana. Jangan menunggu atau menanti tulisan kita baik
dulu, karena itu juga tidak akan mendapatkan hasil, terlalu banyak pertimbanagn
ini itu akhirnya hanya akan...akan...dan akan...
Terinspirasi dari tulisan anak-anak MI satu kelas, apalagi
masih kelas 2 dan mereka bisa menghasilkan buku, tergeraklah teman bimtek sekelasku
(Ibu Eti Rohmawati) untuk usul menulis tentang kegiatan bimtek kepala madrasah
dan semua warga kelas dimohon untuk membuat tulisan walau hanya satu halaman.
Akhirnya aku sebagai ketua kelas (care taker) tanpa proses demokrasi mengumumkan
di group WA untuk membuat tulisan yang rencananya nanti akan kami cetak dalam
bentuk buku.
Alangkah
indah dan bangganya kami bila tulisan satu kelas A nanti bisa terwujud dalam
bentuk buku. Saya yakin bisa dengan bimbingan Bapak Dr. Ngainun Naim, M.HI dan
kemauan yang kuat dari teman-teman sekelas. Karena kemauan yang kuat dan dimulai
dalam bentuk yang sederhanapun itulah yang dapat menghasilkan buku. Jangan
mengharap lebih dalam segalanya, misal isinya, tata bahasanya apalagi sampai
pada fee, itu akan menghambat dan mengganggu dimulainya proses menulis dalam bentuk
buku.
Sepulang
dari bimtek setelah sholat maghrib rencana kumulai proses menulisku dengan
semangat yang masih membara dan dengan harapan bisa segera selesai tulisanku.
E... ternyata Allah berkehendak lain, setelah maghrib ada undangan istighotsah dari
PAUD Al Hikmah Doroampel, acara belum selesai listrik mati sampai pagi. Sebelum
shubuh bangun terdengar suara speaker masjid melantunkan ayat-ayat Al Qur’an,
lhooo... kok listrik sudah nyala tapi rumah kok masih gelap, kulihat spedometer
listrik, trernyata pada posisi “0” atau off.
Seusai
jama’ah shubuh, kumulai proses menulis ini dengan perasaan dan penuh pikiran apa
yang aku tulis ini nanti, tentang apa, bagaimana aku mulai, apa bisa ya...???.
ingat pesan narasumber untuk mulai menulis itu harus fokus dan jangan banyak
pertimbangan apalagi ingin tulisannya nanti isinya bagus, itu akan menghambat
dan bahkan akan menghentikanmu saat ini juga untuk keinginannmu manulis.
Aku
harus mulai menulis dan tentang apa ya ? ohh..tentang bimtek, dan ini aku mulai
tentang menulis. Aku menulis tentang bagimana bisa menulis dalam bentuk buku
yang diisi oleh teman-teman satu kelas, yang nantinya dengan penuh harapan semoga
bisa satu orang satu buku walaupun dalam satu semester selesainya atau mungkin
satu tahun sekali. Alangkah indah dan bangganya bila bisa seperti Pak Ngainun
Naim bisa menghasilkan karya beberapa buku, walaupun perlu proses yang sangat panjang
dan butuh kemauan dan lingkungan orang-orang yang selalu mendukung dan
memotivasi untuk menulis.
Dicontohkan
pak Naim tentang perjalanannya ke Brunei Darussalam saja bisa menghasilkan
buku, tentunya dalam kegiatan bimtek kita juga bisa menghasilkan sebuah karya
dalam bentuk tulisan dan nantinya kita jadikan satu buku. Ini awal mula kita
untuk menulis dan membuat buku. Jangan mendengarkan omongan orang yang bisa
menghambat apalagi menghentikan kemuaan dan keinginan kita untuk menulis dalam
bentuk buku.
Menulis
itu hal yang mudah dan saya yakin semua orang bisa, tapi tidak semua orang mau
memulai dan ingin memulai saat ini juga sehingga bisa menghasilkan karya dalam
sebuah buku, makanya Pak Naim menginginkan Kelas A untuk memulai walau masih
ramai-ramai satu kelas, yang terpenting punya karya dulu, isi dan tata bahasa
itu urusan yang kesekian, itu nanti akan menjadi baik dan indah bila kita sudah
menghasilkan karya dalam bentuk buku, kita evaluasi, kita perbaiki tulisan
selanjutnya, tentunya kita masih butuh proses yang panjang dan harus mau
belajar dan belajar untuk menghasilkan karya buku yang lebih baik dan bagus.
Seorang
penulis itu harus mau membaca, karena karya dari penulis dalam bentuk buku yang
hanya bisa dibaca.
Menulis menghasilkan buku, buku untuk dibaca, jadi
penulis harus suka membaca....
Lanjutkan....
BalasHapus