BLENDRANG
(Jangan nget-ngetan klangenanku)
Oleh : Slamet Haryanto
Doroampel, 28 Agustus 2020
Kalau berbicara masalah kuliner, tidak akan pernah habis, apalagi kuliner kesukaan yang tiap orang tentunya berbeda walaupun ada sebagian orang yang sama. Satu jenis bahan sayur saja bisa menjadi lima sampai sepuluh macam sayur kalau sudah masak, dan semua itu perlu keahlian dan kebiasaan tersendiri untuk memasak sayur, khususnya sayur lodeh yang pakai santan. Berbicara kuliner nasi pecel saja, tentu banyak yang terkenal dan pelanggannya juga sendiri-sendiri. Ada nasi pecel Tulungagung yang terkenal yaitu nasi pecel Mbok Modin di era 2000 sampai sekarang tapi setelah ganti generasi pelanggannya juga mulai berkurang, ada juga nasi pecel Mak Utik, pecel lor perempatan gludug, pecel gragalan dan lain sebagainya. Ngomongin pecel Mbok Modin aku ingat Pak Niam, entah siapa yang duluan masuk dan makan nasi di warung Mbok Modin (warungnya masih di barat/pas gapuro masuk IAIN yang sekarang) aku dan istriku atau Pak Naim, dan setelah selesai makan Pak Naim pamit duluan, e...ternyata aku sudah dibayari, terima kasih Pak Naim......
Belum lagi berbicara soal nasi lodho, di Tulungagung juga terkenal lodho ayam kampung lho, sekarang yang paling banyak pelanggannya di daerah Sukoanyar dan juga daerah Bandung, kuahnya yang kental dan pedas bikin semua orang ketagihan dan membicarakan masakan kuliner yang satu ini sehingga menjadi promosi dari muliut ke mulut dari para pelanggannya dan akhirnya banyak yang mau mencoba dan malah kesengsem jadi pelanggannya juga. Semua itu karena masakannya punya ciri khas lezat dan nikmatnya, sehingga kadang-kadang susah diungkapkan dengan kata-kata, hanya pokoke lek ra jajal dewe ra iso crito....
Terlepas dari kuliner tersebut diatas, disini saya akan ngomongin tentang blendrang (jangan nget-ngetan) yaitu sayur lodeh bersantan kemarin yang dipanasin lagi, baik itu memang sengaja dibuat blendrang atau karena tidak habis dibuat sayur hari ini, sehingga untuk menghemat sayur tersebut dihangatin lagi, dan itu membuat kuah sayur menjadi sedikit tapi semakin menambah nikmat rasanya bagi yang menyukai blendrang, tapi juga ada yang tidak suka karena efek sampinya atau memang tidak biasa seperti tetangga saya orang Cilacap itu katanya sayur setiap hari ya harus habis dan harus ganti, kalau tidak habis ya dibuang. Tapi bagi yang sudah biasa makan sayur blendrang akan menemukan sensasi tersendiri nikmatnya apalagi sama nasi liwet yang hangat, sampai-sampai gak terasa kenyangnya tahu-tahu gak bisa pindah dari tempat makannya.
Semasa ayahku masih hidup dulu klangenannya (kesukaannya) sayur kacang sriwet sama lombok hijau atau merah sampai jadi blendrang atau rebung sama lotho juga dicampur cabe dan itu juga membuat aku menjadi penggemar blendrang juga walaupun lomboknya aku sendirikan karena tidak tahan mulesnya perut, tetapi ayahku seolah tidak merasakan pedas sama sekali, katanya enak dan segar kalau dicampur cabe. Dan blendrang masakan ibuku memang punya cita rasa tersendiri dari mulai racikan bumbunya sampai kekentalan santannya, kadang bekas santan blendrang yang agak basah-basah kering di kuali/ wajan itu saya kasih nasi terus saya gosok-gosokkan bekas santannya itu masih tetap nikamt dan menjadi klangenanku. Semua itu cerita yang tak akan terlupakan sampai saat ini, walaupun sekarang juga masih menjadi kesukaan tersendiri ketika ada sayur lyang tidak habis hari ini saya panasi lagi dengan harapan besuk jadi blendrang yang mantab, tapi kadang sama istriku malah dibuang karena tidak mau merasakan efek sampinya yang sering dirasakan ketika makan blendrang, katanya bikin ngantuk dan kolesterolnya naik lah... jadi biasanya aku pesan jangan dibuang, biar saya yang makan walaupun juga merasakan bahayanya tapi masih kalah dengan nikmatnya apalagi kalau sudah nyandu (bau dan rasanya yang khas).
Sekarangpun sering kalau pulang dari sekolah aku mampir ke rumah ibu sekedar menanyakan sayurnya apa, walaupun belum blendrang kadang saya minta makan juga, apalagi kalau ada blendrang langsung angkat piring dan menikmati sensasinya. Semua itu tidak lepas dari kebiasaan kita di waktu kecil yang mungkin makan saja kadang sering kekurangan dan kadang tidak ada sayur. Sering juga ketika tidak ada sayur ibu membuatkan sambal kepala ikan asin (gerih) yang dibakar, tapi nikmatnya juga tidak kalah sama blendrang, sehingga ketika ada sayur yang tersisa harus dipanasi lagi dengan alasan untuk hemat, tapi malah punya cita rasa dan sensasi tersendiri ketika sayur itu sudah menjadi blendrang. Sayur apapun kalau sudah menjadi blendrang asal tidak sampai basi waktu memanasinya, pasti akan menggugah selera makan bagi penggemarnya.
Warung nasi atau restoran yang menyediakan masakan kuliner blendrang mungkin jarang kita jumpai kecuali di Yogjakarta yaitu gudeg yang terbuat dari nangka muda (tewel) disayur lodeh dan dikeringhkan kuahnya. Tapi di Blitar katanya ada masakan sayur lodeh tewel (nangka muda) yang sudah dikeringkan hingga menjadi blendrang atau lebih dikenal dengan nama blendi tewel, walaupun sama saja dengan blendrang. Selain rasanya pedas dan manis juga ada gurihnya karena bekas kuah santan yang sudah mengering jadi satu dengan tewelnya. Bahkan saking sedapnya banyak orang yang makan hanya dengan blendrang saja tanpa tambahan lauk iakn atau yang lain, karena akan mengurangi nikmat dan lezatnya blendrang tersebut.
Luar biasa abah... Serasa menikmati yg sedang di tulis dalam cerita.
BalasHapusMakasih yii.....
HapusHanyut dalam buaian blendrang nget-ngetan
Luar biasa abah... Serasa menikmati yg sedang di tulis dalam cerita.
BalasHapusmatiul...yang ditunggu tunggu akhirnya buah karya blendrang pak slamet menutup malam ini...
BalasHapusMakasih suportnya
HapusWah jian siip.... sangat menarik blendrangnya....
BalasHapusMenarik lidah
Hapus