MENYIASATI KEBIJAKAN DEMI SEPERCIK KEBAJIKAN
Kadang harapan tak sesuai dengan kenyataan, itulah situasi dunia pendidikan saat ini. Baik itu keinginan pemerintah, guru, orang tua maupun siswa sendiri, semua punya keinginan yang berbeda di situasi pandemi seperti sekarang ini, tapi mau apa lagi memang harus bersabar semuanya. Apalagi setelah ada SKB 4 Menteri, pembelajaran tatap muka ridak diperbolehkan sama sekali, dan harus online (daring), namun demikian semua bisa belajar dan berjalan walau masih jauh dari kenyataan.
Setelah tahun pelajaran baru dimulai tepatnya tanggal 13 Juli 2020 bulan kemarin, sebagian wali murid mulai lelah dan bosan bersandiwara menjadi guru-guruan bagi anak-anaknya mulai pertengahan maret sampai bulan juni atau kenaikan kelas, apalagi tidak diimbangi dengan ilmu mendidik dan juga dibarengi pengetahuan yang cukup, semua memang perlu proses yang panjang untuk menjadi guru yang baik dan benar.
Belum lagi anak-anaknya yang sebagai siswa paksaan bagi orang tuanya harus mau dibimbing dan diarahkanmya walau dengan berat hati, tapi itulah kenyataannya, sehingga tidak ada keharmonisan lagi antara guru-guruan dan murid paksaan, bahkan hubungan anak dengan orang tua pun masih terbawa situasi yang kurang mesra.
Kebijakan-kebijakan pemerintah juga sangat ketat, sehingga pembelajaran tatap muka benar-benar tidak diperbolehkan. Hal ini semakin membuat resah wali murid yang akan menjadi guru boneka lagi dan juga rindunya anak-anak pada guru dan kelasnya. Gurupun juga rindu kegiatan belajar mengajar (KBM) yang normal, tatap muka dengan murid - muridnya dan juga kegiatan - kegiatan ekstra yang menmbah kerinduannya.
Akhirnya kami segenap dewan guru punya rencana menyiasati kebijakan pemerintah yang melarang tatap muka di sekolah, dengan program home visit kelompok kecil. Ternyata banyak wali murid yang menyambut dengan antusias dan suka cita dan anak-anak pun juga senang sekali. Awalnya program ini hanya kelas 1saja, yang mana siswanya belum begitu akrab dengan gurunya walaupun sudah tahu, karena dari RA yang tempatnya satu lokasi dengan MI, tapi rupanya wali kelas 2 - 6 atas juga menginginkan, karena walinya merasa kewalahan mendampingi putra-putrinya belajar di rumah.
Kami para dewan guru sebenarnya tahu bahwa cara ini salah dan tidak boleh dilakukan karena selain bertentangan dengan SKB 4 Menteri, resikonya juga sangat berbahaya, tapi demi melayani usulan wali murid dan juga kekhawatiran dewan guru terhadap siswa baru dan siswa yamg naik kelas, kami lakukan cara ini (home visit) hanya untuk sepercik kebaikan dan menghilangkan kekhawatiran kami.
Ke group paguyuban wali murid pun kami berpesan jangan sampai kirim gambar ataupun informasi ke media sosial terkait kegiatan home visit ini, walauoun ada wali yang protes bahwa kegiatan ini sangat bagus, seharusnya menjadi contoh lembaga lain, dan harus diusulkan ke dinas terkait, tapi akhirnya dijawab sebagian wali yang lain sebaiknya ikutilah kebijakan lembaga, itu pasti sesuai prosedur.
Dan untuk saat ini kegiatan home visit kami hentikan terkait ada kasus baru di Pagerwojo. Semoga pandemi cepat berlalu...
Kegiatan pembelajaran berjalan seperti biasa lagi...
Dan semoga cara kami menyiasati kebijakan SKB 4 Menteri itu ada sedikit manfaat untuk anak didik kami...
Aamiin..
Doropayung, 13 Agustus 2020
Dilema pendidikan, jadi serba salah...
BalasHapusBetull...
BalasHapus